Senin, 25 November 2013

 Puisi adalah bentuk karya sastra yang terikat oleh rima,ritme ataupun jumlah baris dalam bait,serta ditandai oleh bahasa yang padat.
 Jenis-jenis puisi:
  • Ode : Puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawanan. 
  • Himne : Puisi yang berisi pujian terhadap tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.
  • Elegi : Puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih dan kedukaan seseorang.
  • Romance : Puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang kekasih. 
  • Puisi Didaktik : Puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya ditampilkan secara eksplisit.
  • Puisi Satirik : Puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan atau ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun suatu masyarakat. 
  • Puisi Dramatik : Puisi yang objektif,menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat dialog maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu.
  • Puisi Lirik :Puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman,sikap maupun suasana batin yang melingkupinya.
  • Puisi Naratif : Puisi yang mengandung suatu cerita menjadi pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita. 
  • Puisi Efik : Puisi yang didalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan maupun sejarah. 
  Tetapi disini saya hanya memberi contoh puisi satirik saja:

  1. ROKOK
    Pagi hari yang sunyi
    Kau temani diriku
    Ku hisap kau pelan – pelan
    Kau masuki setiap inci paru-paruku

    Kau relakan tubuhku kau rasuki
    Ku tahu itu
    Kau rasakan itu

    Kopi cinta sebagai pasanganmu
    Menemani hari-hariku
    Tak lebih tak kurang
    Penghancur pelan
    Dengan nikmat dan sesaat

    Makin ku hisap dirimu
    Makin tak kuasa ku tolak
    Walau ku sadar kau wahai racun jingga
    Yang mengotori setiap tetes darahku

    Aku harus berhenti menjadikanmu teman
    Kau harus kutinggalkan di hari-hariku ini
    Walau dalam kesendirianku
    Dalam kesunyian dan kesepian

    Aku yakin aku bisa
    Selamat tinggal racun jingga..
  2. SAJAK MATA-MATA
     Ada suara bising di bawah tanah
    Ada suara gaduh di atas tanah
    Ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah
    Ada tangis tak menentu di tengah sawah
    Dan, lho, ini di belakang saya
    ada tentara marah-marah
    Apa saja yang terjadi ? Aku tak tahu
    Aku melihat kilatan-kilatan api berkobar
    Aku melihat isyarat-isyarat
    Semua tidak jelas maknanya
    Raut wajah yang sengsara, tak bisa bicara,
    menggangu pemandanganku.
    Apa saja yang terjadi ? Aku tak tahu
    Pendengaran dan penglihatan
    menyesakkan perasaan,
    membuat keresahan –
    Ini terjadi karena apa-apa yang terjadi
    terjadi tanpa kutahu telah terjadi
    Aku tak tahu. Kamu tak tahu
    Tak ada yang tahu
    Betapa kita akan tahu
    kalau koran-koran ditekan sensor,
    dan mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol
    Koran-koran adalah penerusan mata kita
    Kini sudah diganti mata yang resmi
    Kita tidak lagi melihat kenyataan yang beragam
    Kita hanya diberi gambara model keadaan
    yang sudah dijahit oleh penjahit resmi
    Mata rakyat sudah dicabut
    Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk
    Mata pemerintah juga diancam bencana
    Mata pemerintah memakai kacamata hitam
    Terasing di belakang meja kekuasaan
    Mata pemerintah yang sejati
    sudah diganti mata-mata
    Barisan mata-mata mahal biayanya
    Banyak makannya
    Sukar diaturnya
    Sedangkan laporannya
    mirip pandangan mata kuda kereta
    yang dibatasi tudung mata
    Dalam pandangan yang kabur,
    semua orang marah-marah
    Rakyat marah, pemerinta marah,
    semua marah lantara tidak punya mata
    Semua mata sudah disabotir
    Mata yang bebas beredar hanyalah mata-mata
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar